Rabu, 05 Oktober 2022

ZOOM DESA BUNGUR RAYA KEGIATAN GEBER PANGAJI, UPAYA PENGENTASAN BUTA AKSARA QUR'AN DI KABUPATEN PANGANDARAN

 


Pendidikan agama, khususnya kemampuan membaca Al-Qur'an, merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat yang beriman dan bertakwa. Di era digital yang serba cepat ini, upaya untuk memberantas buta aksara Al-Qur'an menjadi tantangan tersendiri, terutama di wilayah pedesaan. Pemerintah Kabupaten Pangandaran, di bawah kepemimpinan Bupati yang visioner, tidak tinggal diam. Sebuah gerakan besar diluncurkan untuk menjawab tantangan tersebut: Gerakan Pemberdayaan Pangandaran Mengaji (GEBER PANGAJI).

Pada hari Kamis, 06 Oktober 2022, sebuah kegiatan Zoom Meeting skala besar dilaksanakan. Bertempat di Kantor Kepala Desa Bungur Raya, acara ini mengundang para Guru Ngaji, Ketua RT, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat Desa. Yang membuat pertemuan ini sangat istimewa adalah kehadiran Bupati Pangandaran sebagai pemapar utama, yang berkesempatan menyampaikan langsung latar belakang, tujuan, dan mekanisme pelaksanaan GEBER PANGAJI kepada seluruh elemen masyarakat desa.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang jalannya Zoom Meeting tanggal 06 Oktober 2022 di Desa Bungur Raya, latar belakang lahirnya Program Indonesia Mengaji Chapter Pangandaran dan GEBER PANGAJI, struktur organisasi gerakan ini di tingkat kecamatan dan desa, serta peran penting para relawan dan guru dalam menyukseskannya. Dengan panjang lebih dari 1500 kata, tulisan ini diharapkan menjadi dokumentasi yang komprehensif sekaligus inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Pangandaran dan seluruh Indonesia.

Latar Belakang: Dari Visi "Pangandaran Juara" Menuju Indonesia Mengaji

Sebuah program unggulan tidak pernah lahir dalam ruang hampa. Di balik peluncuran Gerakan Pemberdayaan Pangandaran Mengaji (GEBER PANGAJI) terdapat serangkaian analisis dan komitmen yang matang. Seperti yang disampaikan langsung oleh Bupati Pangandaran dalam pemaparannya saat Zoom Meeting di Kantor Kepala Desa Bungur Raya, latar belakang program ini adalah sebagai tindak lanjut dari upaya untuk mewujudkan visi besar 'Pangandaran Juara'.

Visi "Pangandaran Juara" bukanlah sekadar slogan politik. Visi ini mencerminkan cita-cita untuk menjadikan Kabupaten Pangandaran sebagai daerah yang unggul dalam berbagai aspek: ekonomi, pariwisata, infrastruktur, sumber daya manusia, dan yang tidak kalah penting adalah aspek spiritual dan keagamaan. Bupati Pangandaran menyadari bahwa pembangunan fisik semata tidak akan pernah cukup. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kuat secara iman dan takwa.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan bahwa pemerintah kabupaten telah menganalisis langkah-langkah lanjutan yang menjadi tanggung jawab dan amanah mereka. Dari hasil analisis tersebut, salah satu misi Kabupaten Pangandaran yang paling mendesak untuk diimplementasikan adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat. Pertanyaannya kemudian: bagaimana cara meningkatkan keimanan dan ketakwaan secara terukur dan berdampak luas? Jawabannya adalah dengan memastikan bahwa setiap warga Kabupaten Pangandaran, khususnya generasi muda, mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Karena Al-Qur'an adalah sumber utama ajaran Islam, dan kemampuan membacanya adalah pintu masuk untuk memahami isinya.

Dari sinilah kemudian lahir gagasan untuk mengadopsi program Indonesia Mengaji yang merupakan program nasional, kemudian diadaptasi dan diperkuat di tingkat kabupaten menjadi Indonesia Mengaji Chapter Pangandaran. Dan untuk menjalankan program ini secara konkret di lapangan, dibentuklah sebuah gerakan dengan nama yang khas dan mudah diingat: Gerakan Pemberdayaan Pangandaran Mengaji (GEBER PANGAJI).

Apa Itu GEBER PANGAJI? Mengenal Program Unggulan Pangandaran

GEBER PANGAJI adalah akronim dari Gerakan Pemberdayaan Pangandaran Mengaji. Program ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pangandaran dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk para ulama, guru ngaji, kepala desa, kepala sekolah, dan masyarakat umum. Nama "GEBER" dipilih bukan tanpa alasan. Kata "geber" dalam bahasa sehari-hari mengandung makna gerakan yang dinamis, energik, dan serentak. Ini adalah gerakan massal, bukan program parsial yang hanya dilakukan oleh segelintir orang.

Secara substansi, GEBER PANGAJI adalah sebuah program yang memiliki tujuan utama untuk mengentaskan buta aksara Al-Qur'an di seluruh wilayah Kabupaten Pangandaran. Buta aksara Al-Qur'an masih menjadi masalah yang cukup signifikan di berbagai daerah, termasuk di Pangandaran. Banyak masyarakat, terutama dari generasi tua, yang belum mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Sementara di kalangan generasi muda, meskipun sebagian besar telah belajar mengaji di TPQ atau madrasah, masih banyak yang belum mencapai tingkat kelancaran yang memadai.

Untuk mencapai tujuan tersebut, GEBER PANGAJI dirancang dengan dua program utama, yang masing-masing menyasar segmen masyarakat yang berbeda:

Program Pertama: Diperuntukkan bagi Para Siswa Jenjang SD-SMA/K

Program pertama ini menyasar dunia pendidikan formal. Para siswa SD, SMP, dan SMA/SMK di seluruh Kabupaten Pangandaran menjadi target utama. Mengapa? Karena masa sekolah adalah periode emas untuk menanamkan kemampuan membaca Al-Qur'an. Di sinilah peran para guru agama dan kepala sekolah menjadi sangat krusial.

Implementasi program ini di sekolah-sekolah akan dilakukan melalui:

  • Penambahan jam pelajaran baca tulis Al-Qur'an (BTQ) di kurikulum muatan lokal.

  • Pembentukan ekstrakurikuler pengajian dan tahfidz (menghafal Al-Qur'an).

  • Evaluasi berkala kemampuan mengaji siswa, misalnya melalui ujian praktik baca Al-Qur'an yang menjadi syarat kenaikan kelas.

  • Kerja sama antara sekolah dengan TPQ atau madrasah diniyah di sekitar lingkungan sekolah.

Program Kedua: Diperuntukkan bagi Masyarakat Umum

Program kedua memiliki cakupan yang lebih luas karena menyasar seluruh lapisan masyarakat di luar dunia pendidikan formal. Ini termasuk para orang tua, remaja yang sudah tidak bersekolah, lansia, serta kelompok masyarakat lainnya yang masih memiliki keterbatasan dalam membaca Al-Qur'an.

Implementasi program untuk masyarakat umum akan dilakukan melalui:

  • Pendirian atau pengaktifan kembali majelis taklim di setiap dusun dan RW.

  • Pelatihan bagi para ustadz dan ustadzah (guru ngaji) untuk meningkatkan kualitas pengajaran.

  • Program "satu rumah satu penghafal Al-Qur'an" atau minimal satu anggota keluarga yang lancar mengaji.

  • Penggunaan metode-metode cepat belajar Al-Qur'an yang telah terbukti efektif, seperti metode Iqro', Qira'ati, atau An-Nahdliyah.

Kolaborasi dan Struktur Organisasi GEBER PANGAJI

Sebuah gerakan sebesar GEBER PANGAJI tidak mungkin berhasil tanpa struktur organisasi yang jelas dan kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak. Dalam Zoom Meeting di Desa Bungur Raya, Bupati Pangandaran memaparkan secara rinci bagaimana struktur kepengurusan dan koordinasi gerakan ini dari tingkat kabupaten hingga ke tingkat yang paling bawah, yaitu RT dan sekolah.

Tingkat Kabupaten

Di tingkat kabupaten, penanggung jawab utama GEBER PANGAJI adalah Bupati Pangandaran sendiri. Beliau didukung oleh perangkat daerah terkait, seperti Dinas Pendidikan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pangandaran, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pangandaran. Tim ini bertugas menyusun kurikulum, modul pelatihan, serta mengoordinasikan pelaksanaan Training of Trainer (TOT) bagi para relawan.

Tingkat Kecamatan

Yang menarik dari struktur GEBER PANGAJI adalah pelibatan para Camat sebagai pemangku kepentingan kunci. Dalam paparannya, Bupati Pangandaran menegaskan bahwa Koordinator Gerakan Pemberdayaan Pangandaran Mengaji (GEBER PANGAJI) di tingkat Kecamatan adalah para Camat. Peran camat sangat penting karena mereka adalah "mata dan telinga" bupati di tingkat kecamatan. Camat bertugas mengoordinasikan seluruh kepala desa di wilayahnya, memonitor progres pelaksanaan, dan melaporkan secara berkala kepada bupati.

Tingkat Desa dan Sekolah

Di tingkat desa, tanggung jawab diemban oleh dua jenis koordinator yang berbeda namun saling melengkapi:

1. Koordinator Tingkat Desa: Para Kepala Desa
Setiap Kepala Desa di Kabupaten Pangandaran, termasuk Kepala Desa Bungur Raya (Bapak Halim), menjadi koordinator GEBER PANGAJI di wilayah desanya masing-masing. Tugas Kepala Desa antara lain:

  • Menggerakkan perangkat desa, RT, RW, dan lembaga kemasyarakatan untuk mendukung program.

  • Memfasilitasi pertemuan-pertemuan tingkat desa terkait GEBER PANGAJI.

  • Mengalokasikan anggaran desa (jika memungkinkan) untuk mendukung kegiatan pengajian di tingkat dusun.

  • Mengoordinasikan dengan camat dan bupati.

2. Koordinator Tingkat Sekolah: Para Kepala Sekolah
Untuk program yang menyasar siswa SD hingga SMA/SMK, koordinatornya adalah para Kepala Sekolah di masing-masing satuan pendidikan. Tugas Kepala Sekolah meliputi:

  • Mengintegrasikan program GEBER PANGAJI ke dalam kegiatan belajar mengajar.

  • Menugaskan satu orang guru di sekolahnya untuk menjadi relawan GEBER PANGAJI.

  • Memonitor perkembangan kemampuan mengaji siswa.

  • Melaporkan hasil capaian kepada Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama.

Peran Relawan dan Training of Trainer (TOT)

Salah satu poin terpenting yang disampaikan Bupati Pangandaran dalam Zoom Meeting di Kantor Kepala Desa Bungur Raya adalah tentang penggerakan para relawan. Bupati dengan tegas menginstruksikan:

Untuk Para Kepala Desa

Setiap kepala desa wajib menugaskan 1 orang relawan dan 1 orang koordinator survei Pangandaran Mengaji. Relawan ini adalah orang yang akan menjadi ujung tombak program di tingkat desa. Mereka akan bertugas mengajak, membimbing, dan memotivasi masyarakat untuk belajar mengaji. Sementara koordinator survei bertugas melakukan pendataan awal (baseline survey) tentang sebaran kemampuan baca Al-Qur'an di desa tersebut. Data survei ini sangat penting untuk mengetahui seberapa besar masalah buta aksara Al-Qur'an dan di mana lokasi prioritas intervensi.

Kriteria relawan yang ideal antara lain:

  • Memiliki kemampuan baca Al-Qur'an yang baik (lancar, fasih, dan mengetahui tajwid dasar).

  • Memiliki jiwa sosial yang tinggi dan sabar dalam mengajar.

  • Tersedia waktu untuk melakukan kegiatan pengajaran secara rutin (misalnya seminggu 2-3 kali).

  • Dikenal dan dipercaya oleh masyarakat setempat.

Untuk Para Kepala Sekolah

Setiap kepala sekolah harus menugaskan 1 orang guru untuk menjadi relawan Pangandaran Mengaji. Guru yang dipilih idealnya adalah guru agama Islam, atau jika tidak ada, bisa guru mata pelajaran lain yang memiliki kompetensi mengaji yang baik. Tugas guru relawan ini tidak hanya mengajar siswa di sekolah, tetapi juga dapat dilibatkan dalam kegiatan pengajian untuk masyarakat umum di lingkungan sekitar sekolah.

Training of Trainer (TOT)

Para relawan yang telah ditunjuk oleh kepala desa dan kepala sekolah tidak akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa bekal yang memadai. Mereka akan diikutsertakan dalam kegiatan Training of Trainer (TOT). TOT adalah pelatihan khusus yang bertujuan untuk melatih para relawan agar dapat menjalankan tugasnya secara profesional dan efektif. Materi TOT meliputi:

  • Metodologi pengajaran baca Al-Qur'an yang cepat dan menyenangkan.

  • Teknik komunikasi dan pendekatan kepada masyarakat yang mungkin kurang termotivasi.

  • Pembekalan ilmu tajwid yang lebih mendalam.

  • Manajemen kelas dan pengelolaan kelompok belajar.

  • Penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang inovatif.

Setelah mengikuti TOT, para relawan diharapkan memiliki kompetensi yang relatif seragam, sehingga kualitas pengajaran GEBER PANGAJI di seluruh kecamatan dan desa dapat terjaga. Selain itu, TOT juga menjadi ajang untuk membangun semangat kolektif dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap program ini.

Apresiasi dari Ketua Program Tim Indonesia Mengaji Chapter Pangandaran

Tidak hanya Bupati yang memberikan sambutan dalam Zoom Meeting tersebut. Turut hadir dan memberikan komentar penting Ketua Program Tim Indonesia Mengaji Chapter Pangandaran, K.H. Mas'ud. Sebagai representasi dari program Indonesia Mengaji di tingkat nasional, K.H. Mas'ud menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Bupati Pangandaran.

Beliau menegaskan bahwa baru 1 Kabupaten/Kota yang quick response (respon cepat) terhadap Program Indonesia Mengaji. Di tengah berbagai tantangan birokrasi dan keterbatasan anggaran di banyak daerah, Kabupaten Pangandaran menunjukkan kecepatan dan keseriusan yang luar biasa dalam merespon program ini. Hal ini membuktikan bahwa kepemimpinan di Pangandaran sangat sadar akan pentingnya pendidikan Al-Qur'an sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.

Lebih membanggakan lagi, K.H. Mas'ud menyampaikan fakta yang sangat istimewa: "Profil dari Indonesia Mengaji lahir dari Pangandaran." Artinya, konsep, model, atau gambaran ideal tentang bagaimana program Indonesia Mengaji seharusnya dijalankan di tingkat daerah, ternyata pertama kali terwujud dengan baik di Kabupaten Pangandaran. Pangandaran menjadi pelopor, menjadi percontohan bagi kabupaten/kota lain di Indonesia. Ini adalah kebanggaan tersendiri bagi seluruh masyarakat Pangandaran, termasuk warga Desa Bungur Raya.

Pernyataan K.H. Mas'ud ini sekaligus menjadi pelecut semangat bagi seluruh peserta Zoom Meeting di Kantor Kepala Desa Bungur Raya. Jika Pangandaran telah ditetapkan sebagai profil atau model, maka jangan sampai gagal. Semua pihak harus bahu-membahu memastikan GEBER PANGAJI berjalan sukses.

Partisipasi Desa Bungur Raya: Menindaklanjuti Instruksi Bupati

Bagi Desa Bungur Raya, Zoom Meeting pada Kamis, 06 Oktober 2022 ini bukan sekadar acara mendengarkan paparan. Ini adalah momen untuk segera bertindak. Dengan dihadiri oleh para Guru Ngaji, Ketua RT, dan MUI Desa, seluruh elemen masyarakat di Bungur Raya mendapatkan pemahaman yang sama tentang GEBER PANGAJI.

Langkah-langkah konkret yang segera dapat dilakukan oleh Desa Bungur Raya pasca Zoom Meeting antara lain:

  1. Penunjukan Relawan dan Koordinator Survei: Kepala Desa Bungur Raya, Bapak Halim, segera menunjuk satu orang relawan desa dan satu orang koordinator survei. Relawan desa kemungkinan besar diambil dari kalangan guru ngaji yang sudah ada, sementara koordinator survei bisa dari perangkat desa atau tokoh masyarakat.

  2. Pendataan Kemampuan Mengaji Warga: Koordinator survei bersama para Ketua RT mulai melakukan pendataan sederhana di setiap RT. Data yang dikumpulkan antara lain: berapa jumlah warga yang sudah lancar mengaji, yang sudah bisa tetapi masih terbata-bata, dan yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur'an.

  3. Pengaktifan Kelompok Belajar: Berdasarkan data survei, desa dapat mengaktifkan kembali atau membentuk kelompok belajar Al-Qur'an baru, khususnya untuk warga yang masih buta aksara. Tempatnya bisa di masjid desa, mushola, atau rumah salah satu warga yang bersedia.

  4. Koordinasi dengan Sekolah: Kepala desa berkoordinasi dengan kepala sekolah yang ada di wilayah Desa Bungur Raya (SD, MI, SMP, MTs) untuk memastikan bahwa guru relawan dari sekolah sudah ditunjuk dan siap mengikuti TOT.

  5. Pelaporan ke Kecamatan: Desa Bungur Raya secara berkala melaporkan progres pelaksanaan GEBER PANGAJI kepada Camat Langkaplancar sebagai koordinator tingkat kecamatan.

Makna Strategis GEBER PANGAJI bagi Masyarakat Desa

Program GEBER PANGAJI memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar "belajar mengaji". Ada beberapa dimensi penting yang perlu dipahami:

Dimensi Spiritual

Tentu yang paling utama adalah dimensi spiritual. Dengan mampu membaca Al-Qur'an, seorang Muslim dapat melaksanakan ibadah shalat dengan lebih baik (karena membaca surat-surat Al-Qur'an dengan benar). Ia juga dapat membaca terjemahan dan tafsir, lalu mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang gemar membaca Al-Qur'an akan cenderung memiliki moral yang lebih baik, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih damai.

Dimensi Sosial

GEBER PANGAJI menjadi perekat sosial. Ketika warga dari berbagai latar belakang berkumpul dalam majelis taklim atau kelompok belajar mengaji, interaksi sosial yang positif terjadi. Yang kaya dan yang miskin duduk bersama. Yang tua dan yang muda saling belajar. Hal ini memperkuat modal sosial (social capital) desa, yaitu jaringan gotong royong dan saling percaya antar warga.

Dimensi Pendidikan

Bagi generasi muda, kemampuan mengaji yang baik memberikan fondasi untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti fiqih, tauhid, dan akhlak. Hal ini melengkapi pendidikan formal yang mereka terima di sekolah. Anak yang terbiasa mengaji juga cenderung lebih disiplin dan memiliki manajemen waktu yang baik.

Dimensi Pencegahan Radikalisme

Seringkali, paham-paham radikal dan ekstremis menyebar karena masyarakat awam tidak mampu membaca Al-Qur'an secara langsung dan hanya mengandalkan penafsiran dari pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab. Dengan kemampuan membaca Al-Qur'an yang baik, masyarakat dapat lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang menyimpang.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Tentu saja, peluncuran GEBER PANGAJI bukan tanpa tantangan. Beberapa potensi kendala yang mungkin dihadapi antara lain:

Keterbatasan Jumlah Relawan

Dengan target menjangkau seluruh penduduk Kabupaten Pangandaran, jumlah relawan yang hanya satu orang per desa dan satu orang per sekolah mungkin masih kurang. Diperlukan mekanisme untuk merekrut relawan tambahan dari kalangan mahasiswa, pensiunan guru, atau tokoh masyarakat lainnya.

Motivasi Masyarakat

Tidak semua warga memiliki motivasi yang sama untuk belajar Al-Qur'an, terutama mereka yang sudah berusia lanjut atau yang sibuk dengan urusan ekonomi. Diperlukan pendekatan yang kreatif dan persuasif.

Kesinambungan Program

Seringkali program yang bagus di awal berjalan lambat setelah pergantian kepemimpinan atau setelah anggaran habis. GEBER PANGAJI harus dirancang agar berkelanjutan, misalnya dengan melibatkan lembaga-lembaga yang sudah ada seperti masjid, mushola, dan pondok pesantren.

Kesimpulan

Zoom Meeting yang dilaksanakan pada hari Kamis, 06 Oktober 2022, bertempat di Kantor Kepala Desa Bungur Raya, dengan mengundang para Guru Ngaji, Ketua RT, dan MUI Desa, telah berhasil membuka mata dan hati seluruh peserta tentang pentingnya Gerakan Pemberdayaan Pangandaran Mengaji (GEBER PANGAJI). Bupati Pangandaran, melalui paparannya, telah menjelaskan secara gamblang bahwa program ini adalah tindak lanjut dari visi "Pangandaran Juara" dan misi meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat.

GEBER PANGAJI, sebagai implementasi dari Indonesia Mengaji Chapter Pangandaran, memiliki target mulia: mengentaskan buta aksara Al-Qur'an di kalangan siswa SD-SMA/K dan masyarakat umum. Struktur organisasinya yang jelas—dengan Camat sebagai koordinator di tingkat kecamatan, Kepala Desa dan Kepala Sekolah sebagai koordinator di tingkat desa dan sekolah—menunjukkan keseriusan pemerintah kabupaten dalam menjalankan program ini. Peran relawan yang dilatih melalui Training of Trainer (TOT) menjadi kunci keberhasilan di lapangan.

Apresiasi dari Ketua Program Tim Indonesia Mengaji Chapter Pangandaran, K.H. Mas'ud, yang menyatakan bahwa Pangandaran adalah satu-satunya kabupaten yang responsif dan bahkan menjadi profil bagi program Indonesia Mengaji, adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Seluruh elemen di Desa Bungur Raya, mulai dari Kepala Desa Halim, para Guru Ngaji, Ketua RT, MUI, hingga seluruh warga, harus bahu-membahu menyukseskan GEBER PANGAJI.

Semoga gerakan ini tidak hanya melahirkan generasi yang pandai membaca Al-Qur'an, tetapi juga generasi yang berakhlak mulia, beriman, dan bertakwa. Karena pada akhirnya, desa yang beriman adalah desa yang maju, dan Pangandaran yang mengaji adalah Pangandaran yang juara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar