Pertanian adalah tulang punggung perekonomian masyarakat pedesaan, tak terkecuali di Desa Bungur Raya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Sebagian besar penduduk desa menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, khususnya tanaman padi sebagai komoditas utama. Namun, para petani tidak pernah berhadapan dengan tantangan yang mudah. Cuaca yang tidak menentu, keterbatasan akses irigasi, dan yang paling mengancam adalah serangan hama yang setiap saat dapat merusak tanaman padi yang telah dirawat dengan susah payah.
Dalam upaya melindungi hasil pertanian dan ketahanan pangan desa, Pemerintah Desa Bungur Raya bersama dinas terkait dan kelompok tani melaksanakan sebuah gerakan strategis: Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (GERDAL OPT). Gerakan ini merupakan upaya kolektif, terencana, dan terpadu untuk mengendalikan hama pada tanaman padi. Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang latar belakang, tujuan, metode, pelaksanaan, serta dampak dari GERDAL OPT di Desa Bungur Raya. Dengan panjang lebih dari 1500 kata, tulisan ini diharapkan menjadi referensi yang bermanfaat bagi para petani, penyuluh pertanian, mahasiswa, serta pembuat kebijakan di tingkat desa.
Apa Itu OPT? Memahami Musuh Para Petani
Sebelum membahas gerakan pengendaliannya, penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Berdasarkan definisi resmi dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, OPT adalah semua organisme yang dapat mengganggu, merusak, atau menyebabkan kematian tanaman, serta menurunkan hasil dan kualitas produk pertanian. OPT mencakup tiga kategori utama:
1. Hama (Pest)
Hama adalah hewan yang merusak tanaman, baik pada fase vegetatif (daun, batang) maupun generatif (bunga, buah, bulir padi). Pada tanaman padi, hama yang paling sering ditemui antara lain:
Tikus sawah (Rattus argentiventer): Merusak tanaman padi dengan memotong batang, terutama pada fase pengisian bulir. Seekor tikus dewasa dapat merusak 30-50 rumpun padi dalam semalam.
Walang sangit (Leptocorisa oratorius): Menyerang bulir padi pada fase masak susu, menghisap cairan bulir sehingga menjadi hampa dan berubah warna menjadi kecoklatan.
Wereng coklat (Nilaparvata lugens): Hama paling berbahaya yang dapat menyebabkan ledakan populasi (outbreak) dan gagal panen total (puso) dalam skala luas.
Penggerek batang padi (Scirpophaga innotata): Larvanya masuk ke dalam batang padi dan memakan jaringan di dalamnya, menyebabkan gejala "sundep" pada fase vegetatif dan "beluk" pada fase generatif.
Ulat grayak (Spodoptera litura): Memakan daun padi hingga tinggal tulang daun.
2. Penyakit (Disease)
Penyakit disebabkan oleh patogen seperti jamur, bakteri, atau virus. Pada tanaman padi, penyakit yang umum antara lain:
Blas (Pyricularia oryzae): Menyerang daun, leher malai, dan bulir, menyebabkan bercak-bercak seperti belimbing.
Hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae): Menyebabkan daun mengering seperti terbakar.
Tungro: Penyakit virus yang ditularkan oleh wereng hijau, menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan berwarna kuning oranye.
3. Gulma (Weed)
Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang berkompetisi dengan tanaman padi dalam hal nutrisi, air, dan sinar matahari. Contoh gulma pada sawah adalah eceng gondok, kangkung air, dan rumput-rumputan.
Pengertian GERDAL OPT: Definisi dan Ruang Lingkup
GERDAL OPT adalah akronim dari Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan. Gerakan ini merupakan program nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian dan diimplementasikan hingga tingkat desa melalui dinas pertanian kabupaten/kota, balai penyuluhan pertanian (BPP), serta kelompok tani.
GERDAL OPT tidak sekadar kegiatan memberantas hama secara serampangan dengan pestisida kimia. Sebaliknya, gerakan ini menekankan pada pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management (IPM). Pendekatan PHT adalah sistem pengendalian OPT yang memadukan berbagai teknik pengendalian secara harmonis, dengan prioritas pada pemanfaatan musuh alami, budidaya tanaman sehat, dan penggunaan pestisida hanya sebagai pilihan terakhir.
Ruang lingkup GERDAL OPT meliputi:
Pemantauan dan deteksi dini populasi OPT di lapangan.
Sosialisasi dan penyuluhan kepada petani tentang teknik pengendalian yang ramah lingkungan.
Pengendalian secara mekanis, biologis, kultur teknis, dan kimiawi jika terpaksa.
Evaluasi hasil pengendalian dan penyusunan rekomendasi untuk musim tanam berikutnya.
Latar Belakang Pelaksanaan GERDAL OPT di Desa Bungur Raya
Desa Bungur Raya, dengan luas area persawahan yang cukup signifikan, tidak luput dari ancaman OPT. Pada musim tanam tertentu, serangan hama tikus dan walang sangit sering menjadi keluhan utama para petani. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya serangan OPT di wilayah ini antara lain:
1. Pola Tanam yang Kurang Teralur
Banyak petani menanam padi secara serempak dalam satu wilayah yang luas. Ketika semua sawah ditanam bersamaan, maka ketersediaan makanan bagi hama sangat melimpah. Sebaliknya, setelah panen serempak, hama kehilangan sumber makanan dan bermigrasi ke sawah lain. Pola tanam yang kurang teralur ini justru memperpanjang siklus hidup hama.
2. Penggunaan Pestisida Kimia yang Berlebihan
Ironisnya, upaya pengendalian yang berlebihan dengan pestisida kimia sintetis sering menjadi bumerang. Pestisida membunuh tidak hanya hama target tetapi juga musuh alami seperti laba-laba, kumbang koksi, dan predator telur. Setelah musuh alami mati, populasi hama justru meledak karena tidak ada pengendali alaminya (fenomena resurgence).
3. Perubahan Iklim
Perubahan iklim menyebabkan ketidakpastian musim. Hujan yang tidak menentu, suhu yang meningkat, dan kelembaban yang berubah-ubah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan OPT tertentu. Misalnya, wereng coklat berkembang pesat pada suhu hangat dan kelembaban tinggi.
4. Kurangnya Pemahaman Petani tentang PHT
Sebagian besar petani di Desa Bungur Raya adalah generasi tua yang terbiasa dengan metode pengendalian konvensional (pestisida kimia). Mereka belum sepenuhnya memahami konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Menyadari kondisi tersebut, pada tahun 2022, Pemerintah Desa Bungur Raya bersama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Langkaplancar dan kelompok tani setempat menginisiasi pelaksanaan GERDAL OPT. Gerakan ini menjadi salah satu program unggulan di sektor pertanian desa.
Tujuan GERDAL OPT di Desa Bungur Raya
Secara spesifik, GERDAL OPT yang dilaksanakan di Desa Bungur Raya memiliki beberapa tujuan strategis:
1. Menekan Populasi Hama di Bawah Ambang Ekonomi
Tujuan utama adalah mengurangi populasi OPT sehingga tidak mencapai tingkat yang merugikan secara ekonomi (ambang kendali). Tidak realistis untuk mengharapkan populasi hama menjadi nol. Yang diharapkan adalah populasi hama tetap rendah dan tidak menyebabkan kerusakan signifikan.
2. Melindungi Musuh Alami
Salah satu prinsip utama GERDAL OPT adalah melindungi dan memanfaatkan musuh alami hama. Laba-laba, kumbang karabid, parasitoid telur (Trichogramma), dan predator seperti capung adalah sekutu petani yang sering tidak disadari. Gerakan ini berupaya menciptakan ekosistem sawah yang seimbang di mana predator dan hama hidup dalam keseimbangan alami.
3. Meningkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani
Dengan pengendalian hama yang efektif, hasil panen padi dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Saat ini, rata-rata hasil panen padi di Desa Bungur Raya berkisar antara 4-5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Melalui GERDAL OPT, targetnya adalah mencapai 6-7 ton per hektar.
4. Mengurangi Ketergantungan pada Pestisida Kimia
Penggunaan pestisida kimia tidak hanya mahal tetapi juga berbahaya bagi kesehatan petani dan lingkungan. GERDAL OPT berupaya mengubah kebiasaan petani agar hanya menggunakan pestisida sebagai pilihan terakhir, bukan sebagai langkah pertama.
5. Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture)
Tujuan jangka panjang GERDAL OPT adalah menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan, yaitu sistem yang mampu mempertahankan produktivitasnya tanpa merusak lingkungan atau menguras sumber daya alam.
Metode dan Teknik Pengendalian dalam GERDAL OPT
Pelaksanaan GERDAL OPT di Desa Bungur Raya menggunakan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mencakup lima komponen utama. Kelima komponen ini diimplementasikan secara simultan oleh para petani dengan pendampingan dari penyuluh.
1. Pengendalian Secara Kultur Teknis (Budidaya Tanaman Sehat)
Prinsip pertama adalah mencegah serangan OPT sejak awal dengan menciptakan tanaman yang sehat dan lingkungan yang tidak mendukung perkembangan hama. Teknik yang diterapkan antara lain:
Penggunaan varietas unggul tahan hama: Memilih benih padi yang memiliki ketahanan genetik terhadap wereng coklat atau blas, seperti varietas Inpari, Ciherang, atau Mekongga.
Perlakuan benih (seed treatment): Merendam benih dengan air hangat atau larutan garam untuk membunuh telur atau patogen yang menempel.
Pengaturan pola tanam dan jarak tanam: Menanam padi dengan jarak yang tidak terlalu rapat (misalnya sistem legowo 2:1) untuk sirkulasi udara yang baik, sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi yang memicu jamur.
Pemupukan berimbang: Jangan berlebihan dalam pemupukan nitrogen (urea) karena pupuk N berlebih membuat daun menjadi lunak dan lebih disukai hama.
Pengairan berselang (intermittent irrigation): Tidak menggenangi sawah terus-menerus, tetapi membiarkan sawah kering secara periodik untuk memutus siklus hidup hama yang hidup di air.
2. Pengendalian Secara Mekanis dan Fisik
Pengendalian mekanis dilakukan dengan alat atau tenaga manusia tanpa bahan kimia. Metode ini murah dan aman. Contoh yang diterapkan di Desa Bungur Raya:
Pemasangan perangkap lampu (light trap): Pada malam hari, lampu perangkap dipasang di pinggir sawah untuk menarik dan menangkap wereng, penggerek batang, atau hama nokturnal lainnya.
Penggunaan perangkap feromon (pheromone trap): Feromon seks sintetis dipasang untuk memerangkap hama jantan, sehingga populasi tidak berkembang biak.
Penggenangan dan pengeringan berselang (lebose): Menggenangi sawah secara tiba-tiba dan tinggi untuk menenggelamkan telur atau hama yang berada di tanah, lalu dikeringkan.
Pemasangan bambu bubut untuk tikus: Alat perangkap tikus otomatis yang dipasang di pematang sawah.
Pengumpulan dan pemusnahan kelompok telur: Petani secara rutin berjalan di sawah dan memusnahkan kelompok telur penggerek batang atau walang sangit yang ditemukan.
3. Pengendalian Secara Biologis
Ini adalah metode yang paling ramah lingkungan. Pengendalian biologis memanfaatkan musuh alami hama, baik predator, parasitoid, maupun patogen. Di Desa Bungur Raya, tim GERDAL OPT memperkenalkan:
Pelepasan musuh alami: Seperti kumbang koksi (Menochilus sexmaculatus) untuk memangsa wereng, atau laba-laba (Lycosa sp.) untuk memakan berbagai serangga hama.
Aplikasi agens hayati: Seperti jamur Metarhizium anisopliae yang bersifat patogen terhadap wereng dan ulat grayak, atau bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) yang mematikan bagi larva kupu-kupu.
Konservasi musuh alami: Menanam tanaman berbunga di pematang sawah (misalnya kenikir, zinnia, atau turi) sebagai sumber nektar bagi parasitoid dan predator dewasa.
4. Pengendalian Secara Kimiawi (Pestisida) sebagai Pilihan Terakhir
Pestisida kimia hanya digunakan jika populasi hama telah melebihi ambang kendali ekonomi (economic threshold) dan metode lain tidak cukup efektif. Dalam GERDAL OPT, penggunaan pestisida diatur dengan prinsip "4 Tepat":
Tepat jenis: Memilih pestisida yang spesifik untuk hama target, bukan pestisida spektrum luas yang membunuh semua serangga.
Tepat dosis: Tidak melebihi dosis yang dianjurkan, karena dosis berlebih hanya membuang uang dan merusak lingkungan.
Tepat waktu: Aplikasi dilakukan ketika hama berada pada fase paling rentan dan saat populasi mencapai ambang kendali, bukan secara rutin mingguan.
Tepat cara: Menyemprotkan pestisida dengan teknik yang benar (arah semprot, waktu semprot pagi atau sore, menghindari angin kencang).
5. Pengendalian Secara Regulasi (Karantina dan Peraturan)
Aspek regulasi juga penting dalam GERDAL OPT. Ini mencakup:
Larangan penggunaan pestisida tertentu yang dilarang karena berbahaya bagi kesehatan atau lingkungan.
Karantina tanaman untuk mencegah masuknya OPT dari luar desa melalui bibit atau hasil panen.
Kewajiban pelaporan jika terjadi ledakan hama (outbreak) ke dinas pertanian setempat.
Pelaksanaan GERDAL OPT di Lapangan
Berdasarkan informasi dari website resmi Desa Bungur Raya (bungurraya.id), pelaksanaan GERDAL OPT untuk mengatasi serangan hama pada tanaman padi dilakukan pada tahun 2022 . Proses pelaksanaan di lapangan melibatkan serangkaian kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Tahap 1: Sosialisasi dan Pembentukan Tim
Sebelum turun ke sawah, Pemerintah Desa Bungur Raya bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mengadakan pertemuan dengan kelompok tani di balai desa. Dalam pertemuan ini, dijelaskan tentang:
Bahaya serangan OPT (wereng, tikus, walang sangit) bagi hasil panen.
Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai filosofi GERDAL OPT.
Peran serta setiap petani dalam gerakan ini.
Setelah sosialisasi, dibentuk Tim GERDAL OPT yang terdiri dari perangkat desa bidang pertanian, ketua kelompok tani, PPL, dan perwakilan petani. Tim ini bertugas mengoordinasikan kegiatan di lapangan, mengumpulkan data serangan, serta melaporkan perkembangan ke dinas pertanian kabupaten.
Tahap 2: Pemantauan dan Deteksi Dini (Monitoring Populasi OPT)
Langkah paling krusial dalam GERDAL OPT adalah pemantauan rutin. Tim GERDAL OPT bersama petani melakukan:
Pengamatan visual dengan berjalan menyusuri petak-petak sawah secara acak (sistem diagonal atau zig-zag).
Penggunaan perangkap lampu untuk mengetahui fluktuasi populasi wereng dan hama malam lainnya.
Pengamatan gejala serangan, seperti daun menguning (wereng), batang berlubang (penggerek batang), atau bulir hampa (walang sangit).
Hasil pemantauan dicatat dalam buku catatan lapangan dan diplot pada peta sebaran serangan. Data ini digunakan untuk menentukan apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau belum.
Tahap 3: Pelaksanaan Pengendalian Berdasarkan Hasil Pemantauan (Action Threshold)
Apabila hasil pemantauan menunjukkan bahwa populasi OPT telah melebihi ambang kendali, maka tim GERDAL OPT segera mengoordinasikan tindakan pengendalian massal. Metode yang digunakan tergantung jenis OPT yang dominan:
Jika serangan wereng coklat → Pelepasan musuh alami (kumbang koksi, laba-laba) dan aplikasi agens hayati Metarhizium. Jika masih gagal, pestisida berbahan aktif pirazabrofos atau karbosulfan dengan dosis terukur.
Jika serangan tikus → Penggenangan liang tikus, pemasangan perangkap bambu bubut, dan gropyokan massal tikus oleh warga.
Jika serangan walang sangit → Penyemprotan pestisida nabati (ekstrak daun nimba atau tembakau) yang aman bagi predator.
Jika serangan penggerek batang → Pengumpulan telur dan larva secara manual, serta perlakuan benih pada musim tanam berikutnya.
Tahap 4: Evaluasi dan Pelaporan
Setelah tindakan pengendalian selesai, tim GERDAL OPT melakukan evaluasi untuk menilai efektivitasnya. Pertanyaan yang dijawab: Apakah populasi hama turun? Apakah kerusakan tanaman berkurang? Apakah ada efek samping terhadap lingkungan? Hasil evaluasi dituangkan dalam laporan yang disampaikan ke Kepala Desa, Camat Langkaplancar, dan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran.
Dampak GERDAL OPT bagi Desa Bungur Raya
Pelaksanaan GERDAL OPT di Desa Bungur Raya telah membawa sejumlah dampak positif, baik bagi para petani secara individu maupun bagi masyarakat desa secara kolektif.
1. Penurunan Tingkat Kerusakan Tanaman
Sejak GERDAL OPT dilaksanakan, tingkat serangan hama yang sebelumnya sering mencapai 30-40% luas tanam berhasil ditekan menjadi di bawah 10-15%. Petani yang dulunya khawatir tanaman padi mereka habis dimakan hama kini lebih tenang menjalani masa tanam.
2. Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan
Dengan berkurangnya serangan hama, hasil panen meningkat. Pendapatan petani per hektar naik sekitar 15-20%. Peningkatan ini sangat signifikan bagi kesejahteraan keluarga petani di Desa Bungur Raya, yang rata-rata memiliki luas garapan 0,5-1 hektar.
3. Pengurangan Biaya Produksi
Sebelum GERDAL OPT, petani menghabiskan Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 per hektar per musim untuk pestisida kimia. Setelah menerapkan PHT, biaya ini bisa ditekan hingga 50-70% karena pestisida hanya digunakan saat diperlukan dan lebih banyak mengandalkan musuh alami serta metode mekanis.
4. Perbaikan Kesehatan Petani dan Lingkungan
Pengurangan penggunaan pestisida kimia berdampak langsung pada kesehatan petani. Keluhan pusing, mual, atau iritasi kulit setelah menyemprot berkurang drastis. Ekosistem sawah juga membaik: ikan, keong, dan burung kembali muncul, menandakan sawah yang sehat.
5. Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani
GERDAL OPT menjadi wahana untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama antar petani. Mereka belajar untuk tidak ego sektoral (misalnya menyemprot pestisida tanpa koordinasi) dan lebih mengutamakan tindakan kolektif yang menguntungkan semua pihak.
Tantangan dan Kendala di Lapangan
Meskipun banyak manfaat, pelaksanaan GERDAL OPT tidak selalu mulus. Beberapa tantangan yang dihadapi di Desa Bungur Raya antara lain:
1. Kebiasaan Lama yang Sulit Diubah
Petani generasi tua yang sudah puluhan tahun menggunakan pestisida kimia seringkali skeptis dengan metode pengendalian hayati. Mereka menganggap musuh alami "tidak sekuat" pestisida kimia. Diperlukan pendekatan persuasif dan demonstrasi plot (demplot) untuk meyakinkan mereka.
2. Keterbatasan Sarana dan Prasarana
Agen hayati seperti Metarhizium atau Trichogramma belum tersedia secara luas di toko saprotan di tingkat kecamatan. Petani harus memesannya dari kabupaten atau membuat sendiri secara sederhana (perbanyakan mandiri), yang membutuhkan keterampilan tambahan.
3. Cuaca Ekstrem
Perubahan iklim membuat prediksi musim dan pola serangan hama menjadi sulit. Wereng coklat, misalnya, dapat meledak populasinya dalam waktu singkat ketika cuaca panas dan lembab setelah musim kemarau.
4. Masih Maraknya Pestisida Ilegal
Di beberapa toko, masih dijual pestisida yang dilarang karena mengandung bahan aktif berbahaya seperti karbofuran atau endosulfan. Petani tergiur harganya yang murah tanpa menyadari dampak jangka panjangnya.
Peran Seluruh Elemen Desa dalam Keberhasilan GERDAL OPT
Keberhasilan GERDAL OPT tidak mungkin tercapai tanpa dukungan semua pihak. Di Desa Bungur Raya, peran-peran berikut sangat menentukan:
Pemerintah Desa
Kepala Desa Halim dan perangkat desa memberikan dukungan kebijakan dan anggaran. Mereka memfasilitasi pertemuan, menyediakan dana operasional tim GERDAL OPT, serta mengoordinasikan dengan kecamatan dan dinas pertanian.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)
PPL adalah ujung tombak transfer teknologi. Mereka melatih petani, mendampingi di lapangan, dan menjadi jembatan antara desa dengan dinas pertanian kabupaten.
Kelompok Tani
Kelompok tani adalah pelaku utama. Mereka yang setiap hari mengamati sawahnya, melaporkan serangan hama, dan melaksanakan tindakan pengendalian. Kelompok tani yang kuat dan solid adalah kunci sukses GERDAL OPT.
Masyarakat Umum
Masyarakat yang bukan petani pun dapat berkontribusi, misalnya dengan ikut serta dalam gropyokan tikus atau melaporkan jika melihat adanya serangan hama di sawah tetangga.
Rekomendasi untuk Keberlanjutan GERDAL OPT
Agar GERDAL OPT berkelanjutan dan dampaknya terus dirasakan, beberapa rekomendasi dapat diajukan:
Perbanyak sekolah lapang petani agar pengetahuan PHT semakin merata.
Sediakan pusat perbanyakan musuh alami di tingkat desa sehingga petani mudah mengaksesnya.
Integrasikan GERDAL OPT dengan program asuransi pertanian sehingga petani terlindungi jika gagal panen meskipun sudah berusaha optimal.
Manfaatkan teknologi digital (aplikasi pelaporan hama, grup WhatsApp) untuk mempercepat komunikasi dan respon terhadap serangan hama.
Libatkan generasi muda dalam pertanian melalui program pemuda tani agar regenerasi petani berlangsung.
Kesimpulan
Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (GERDAL OPT) yang dilaksanakan di Desa Bungur Raya merupakan sebuah upaya kolektif, terencana, dan berkelanjutan untuk melindungi tanaman padi dari serangan hama. Dengan mengusung pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengombinasikan teknik kultur teknis, mekanis, biologis, kimiawi terbatas, dan regulasi, GERDAL OPT berhasil menekan tingkat kerusakan tanaman, meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi, serta memperbaiki kesehatan petani dan lingkungan.
Tantangan seperti kebiasaan lama petani, keterbatasan sarana, dan perubahan iklim tetap ada, namun dengan kerja sama yang erat antara Pemerintah Desa, Penyuluh Pertanian, kelompok tani, dan masyarakat, tantangan tersebut dapat diatasi. Keberhasilan GERDAL OPT di Desa Bungur Raya pada tahun 2022 menjadi bukti bahwa pertanian yang berkelanjutan bukanlah sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui gerakan nyata di tingkat desa.
Kiranya semangat GERDAL OPT terus dijaga dan ditingkatkan, tidak hanya dalam satu musim tanam, tetapi menjadi bagian dari budaya bertani masyarakat Bungur Raya. Karena pada akhirnya, ketahanan pangan desa adalah ketahanan pangan nasional. Jika desa-desa di seluruh Indonesia mampu mengendalikan hama dengan bijak, maka cita-cita swasembada paga bukanlah mimpi di siang bolong.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar