Senin, 07 Januari 2019

Kegiatan Rapat Koordinasi Seni Budaya

Mengawali Tahun dengan Harmoni: Desa Bungur Raya Gelar Rakor Seni Budaya 2019


Di tengah semangat pembaharuan yang menyertai pergantian tahun, sebuah inisiatif penting dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Bungur Raya. Mengawali Tahun Baru 2019, desa yang terletak di Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat ini, mengambil langkah strategis dengan mengadakan kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Seni Budaya. Acara yang digelar pada awal tahun tersebut menjadi momentum bersejarah dalam upaya memetakan, menyatukan, dan mengembangkan potensi kebudayaan yang selama ini hidup subur di masyarakat.

Rapat koordinasi ini bukan sekadar pertemuan rutin tahunan, melainkan sebuah wadah strategis yang menghadirkan para penggiat seni dari seluruh dusun di wilayah kerja Desa Bungur Raya. Kehadiran mereka merupakan representasi dari kekayaan seni dan budaya yang tersebar di setiap sudut desa. Mulai dari seni karawitan, seni bela diri tradisional (pencak silat), seni pertunjukan seperti jaipongan, hingga seni rupa dan kerajinan tangan, semuanya memiliki wakil yang duduk bersama dalam satu ruang diskusi. Suasana kekeluargaan sangat terasa, menandakan bahwa meskipun berasal dari latar belakang seni yang berbeda, mereka memiliki satu visi yang sama: memajukan kebudayaan Desa Bungur Raya.

Acara yang berlangsung khidmat ini dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Bungur Raya, Bapak Halim. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa seni dan budaya adalah jantung dari sebuah peradaban desa. "Desa Bungur Raya tidak hanya dikenal karena potensi alamnya, tetapi juga karena kekayaan budayanya. Oleh karena itu, di awal tahun 2019 ini, kita harus merapatkan barisan. Para penggiat seni adalah ujung tombak pelestarian budaya. Pemerintah desa hadir untuk memfasilitasi, bukan hanya memerintah," ujar Kepala Desa Halim dengan penuh semangat. Beliau juga menekankan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan program kerja yang konkret dan terarah, sehingga kegiatan seni budaya tidak hanya berjalan sporadis, tetapi memiliki kalender tetap yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Senada dengan Kepala Desa, Sekretaris Desa (Sekdes) Bungur Raya, Bapak Suparman, S.IP, turut memberikan arahan yang substansial. Dengan latar belakang pendidikan di bidang ilmu pemerintahan, Sekdes Suparman memberikan perspektif tentang bagaimana seni budaya dapat menjadi instrumen pembangunan desa. Beliau menyoroti pentingnya administrasi dan organisasi dalam kelompok seni. "Kreativitas itu penting, tetapi tanpa organisasi yang kuat, energi para pegiat seni akan mudah terkuras dan tidak berkelanjutan. Melalui rakor ini, kita ingin mendorong setiap kelompok seni untuk lebih tertib administrasi. Hal ini penting agar kita bisa mengakses berbagai bantuan, baik dari desa, kabupaten, maupun provinsi," papar Suparman, S.IP. Beliau juga menambahkan bahwa Pemerintah Desa berkomitmen untuk memasukkan program pengembangan seni budaya ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) secara lebih sistematis, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap para seniman.

Suasana rapat yang awalnya formal berubah menjadi hangat ketika memasuki sesi diskusi. Para penggiat seni dari masing-masing dusun bergantian menyampaikan aspirasi, tantangan, dan harapan mereka. Beberapa isu krusial mengemuka dalam diskusi tersebut. Salah satunya adalah regenerasi. Banyak dari para penggiat seni yang sudah berusia seni mengeluhkan sulitnya menarik minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan kesenian tradisional. Mereka khawatir beberapa jenis seni yang sudah langka akan punah jika tidak ada penerus.

Isu lain yang menjadi perhatian adalah minimnya ruang ekspresi dan panggung pertunjukan. Selama ini, kegiatan seni budaya seringkali hanya muncul pada saat acara-acara tertentu seperti peringatan Hari Kemerdekaan atau acara pernikahan. Para penggiat seni berharap adanya event-event rutin yang lebih terstruktur, seperti festival seni desa atau pentas seni keliling, sehingga mereka memiliki target latihan dan kesempatan untuk menunjukkan kapasitas mereka secara lebih luas.

Selain itu, dukungan terhadap peralatan dan infrastruktur juga menjadi topik hangat. Seorang penggiat seni dari Dusun Cikawung mengungkapkan bahwa kelompok seni karawitan di dusunnya terkendala oleh peralatan gamelan yang sudah usang dan rusak. Sementara itu, kelompok seni pencak silat dari Dusun Bungur Tengah mengeluhkan minimnya tempat latihan yang layak. Tanggapan positif pun muncul dari pemerintah desa. Kepala Desa Halim merespons dengan cepat, mencatat semua kebutuhan tersebut dan berjanji akan melakukan skala prioritas untuk pengadaan alat-alat seni serta rehab ringan tempat latihan yang memungkinkan.

Rapat koordinasi ini juga menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Pertama, dibentuknya sebuah wadah komunikasi formal yang diberi nama "Paguyuban Seni Budaya Bungur Raya". Wadah ini diharapkan menjadi mitra resmi pemerintah desa dalam semua urusan yang berkaitan dengan seni dan budaya. Kedua, disepakati untuk menyusun kalender kegiatan tahunan yang meliputi lomba seni antar dusun, peringatan hari jadi desa dengan pawai budaya, serta rencana untuk berpartisipasi dalam even-even tingkat kecamatan hingga kabupaten. Ketiga, Pemerintah Desa berjanji akan mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan dan workshop guna meningkatkan kapasitas para seniman, terutama dalam hal manajemen pementasan dan pengembangan kreativitas.

Lebih dari sekadar menghasilkan keputusan administratif, rapat koordinasi ini berhasil menumbuhkan kembali rasa kebersamaan di antara para pegiat seni. Selama ini, mereka sering kali bekerja sendiri-sendiri di dusun masing-masing. Melalui pertemuan ini, terjalin jaringan komunikasi yang lebih intensif. Mereka saling bertukar cerita, teknik, dan bahkan berencana untuk melakukan kolaborasi antardusun dalam sebuah pertunjukan besar nantinya. Semangat kolaborasi ini menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi kemajuan kebudayaan di Desa Bungur Raya.

Di akhir acara, Kepala Desa Halim bersama Sekdes Suparman, S.IP, menutup rapat dengan pesan optimisme. Mereka menekankan bahwa pengembangan seni budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah desa atau para pegiat seni semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga Desa Bungur Raya. Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, mereka yakin Desa Bungur Raya tidak hanya akan dikenal sebagai desa yang makmur secara ekonomi, tetapi juga kaya akan jiwa dan identitas kultural yang kuat.

Kegiatan Rapat Koordinasi Seni Budaya di awal Tahun Baru 2019 ini menjadi titik tolak yang signifikan bagi perjalanan kebudayaan Desa Bungur Raya. Ia bukan hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi sebuah manifestasi dari komitmen bersama untuk menjaga warisan leluhur. Melalui sinergi antara Pemerintah Desa yang diwakili oleh Kepala Desa Halim dan Sekdes Suparman, S.IP, serta para penggiat seni dari seluruh dusun, denyut nadi kebudayaan di Bungur Raya diharapkan akan terus berdetak kencang, mengiringi langkah pembangunan desa menuju masa depan yang lebih cerah, tanpa pernah melupakan akar tradisi yang membentuk jati dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar