Perencanaan pembangunan desa yang
partisipatif tidak akan lengkap tanpa adanya tahapan verifikasi
lapangan. Setelah usulan-usulan dari masyarakat terkumpul melalui
musyawarah dusun (Musdus) dan Musyawarah Desa (Musdes), langkah
selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pengukuran dan peninjauan lokasi
secara langsung. Tahapan ini menjadi jembatan antara aspirasi warga di
atas kertas dengan realitas di lapangan. Tanpa peninjauan yang cermat,
bisa jadi usulan yang tampaknya baik ternyata tidak feasible secara
teknis, atau anggaran yang direncanakan ternyata tidak mencukupi karena
kondisi lapangan yang berbeda dari perkiraan.
Pada
hari Selasa, 3 September 2024, Pemerintah Desa Bungur Raya, Kecamatan
Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, melaksanakan kegiatan penting ini.
Tim yang terdiri dari perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD),
serta perwakilan masyarakat dari masing-masing dusun bergerak bersama
mengunjungi setiap lokasi usulan yang telah diajukan. Desa Bungur Raya
yang terdiri dari empat dusun—Dusun Karoya, Dusun Bungur, Dusun Sukasirna, dan Dusun Karangpawitan—memiliki
karakteristik dan kebutuhan pembangunan yang beragam. Mulai dari
perbaikan jalan desa yang rusak parah, pembangunan balai pertemuan,
pembuatan bendungan kecil untuk pengendalian banjir, hingga pembangunan
saluran irigasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Artikel
ini akan mengupas secara mendalam tentang pelaksanaan kegiatan
pengukuran dan peninjauan lokasi di keempat dusun tersebut. Mulai dari
tujuan kegiatan, kondisi masing-masing dusun beserta usulan
prioritasnya, proses pengukuran yang dilakukan, hingga kolaborasi antara
pemerintah desa dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan. Dengan
panjang lebih dari 1500 kata, tulisan ini diharapkan menjadi dokumentasi
yang berharga sekaligus bukti nyata komitmen Pemerintah Desa Bungur
Raya dalam mewujudkan pembangunan yang adil, merata, dan berkelanjutan.
Tujuan Pengukuran dan Peninjauan Lokasi
Kegiatan pengukuran dan peninjauan lokasi yang dilaksanakan pada 3 September 2024 memiliki beberapa tujuan strategis:
1. Memverifikasi Kebenaran Usulan
Tidak
semua usulan yang disampaikan dalam musyawarah dilengkapi dengan data
teknis yang akurat. Ada kalanya warga menyampaikan "jalan rusak
sepanjang sekitar 2 kilometer" tanpa ukuran yang pasti. Melalui
peninjauan, tim dapat mengukur secara pasti berapa panjang dan lebar
jalan yang benar-benar rusak, serta tingkat kerusakannya (ringan,
sedang, atau berat).
2. Menilai Kondisi Aktual Lapangan
Sebuah
usulan pembangunan mungkin sangat baik secara konsep, tetapi kondisi
lapangan bisa jadi tidak mendukung. Misalnya, usulan pembangunan saluran
irigasi di lahan yang ternyata memiliki kontur tanah yang terlalu curam
atau justru rawa-rawa. Peninjauan memungkinkan tim untuk menilai
kelayakan teknis (feasibility) setiap usulan.
3. Mengumpulkan Data untuk Perencanaan Anggaran
Hasil
pengukuran (panjang, lebar, tinggi, volume) akan menjadi dasar
perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Tanpa data yang akurat, RAB
bisa terlalu rendah (menyebabkan proyek mangkrak) atau terlalu tinggi
(menghamburkan anggaran desa).
4. Melibatkan Masyarakat Secara Langsung
Dengan
mengajak perwakilan masyarakat (termasuk pemilik lahan) dalam proses
peninjauan, desa membangun transparansi dan rasa kepemilikan. Masyarakat
tidak bisa lagi mengklaim bahwa mereka tidak dilibatkan jika nantinya
proyek berjalan.
5. Mendokumentasikan Kondisi Sebelum Pembangunan
Foto
dan video yang diambil saat peninjauan menjadi arsip penting. Ketika
proyek selesai, dokumentasi ini dapat digunakan untuk membandingkan
kondisi "sebelum" dan "sesudah" sebagai laporan pertanggungjawaban.
Struktur Tim Peninjau dan Metode Pelaksanaan
Tim peninjau pada hari Selasa, 3 September 2024, terdiri dari unsur-unsur berikut:
Koordinator Tim: Sekretaris Desa (bertugas mengoordinasikan jadwal dan logistik).
Tim Teknis: Kasi Pembangunan dan dua orang staf desa yang memiliki kemampuan pengukuran.
Tim Administrasi: Kaur Perencanaan dan Kaur Umum (bertugas mendokumentasikan dan mencatat hasil).
Perwakilan BPD: Dua orang anggota BPD (bertugas mengawasi dan memastikan proses sesuai aturan).
Perwakilan Masyarakat: Setiap dusun mengirimkan 2-3 orang perwakilan (termasuk Kepala Dusun dan tokoh masyarakat setempat).
Metode yang digunakan adalah survei lapangan terstruktur. Tim bergerak dari satu dusun ke dusun lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Di setiap lokasi, tim melakukan:
Pembukaan dan penjelasan maksud kedatangan kepada warga sekitar.
Pengukuran fisik menggunakan alat bantu seperti meteran gulung, waterpass sederhana, dan GPS jika diperlukan.
Pengambilan foto dari berbagai sudut untuk dokumentasi.
Wawancara singkat dengan warga sekitar untuk menggali informasi tambahan (misalnya sejarah kerusakan, dampak jika tidak diperbaiki).
Pencatatan hasil dalam formulir standar yang telah disiapkan.
Peninjauan di Masing-Masing Dusun
1. Dusun Karoya: Fokus pada Perbaikan Jalan dan Bendungan Kecil
Kondisi Umum Dusun Karoya
Dusun
Karoya merupakan dusun yang terletak di bagian utara Desa Bungur Raya.
Wilayah ini didominasi oleh lahan pertanian padi dan palawija. Sebagian
besar penduduknya adalah petani dan buruh tani. Kepala Dusun Karoya, Bapak Suhana, adalah sosok yang sangat akrab dengan warganya dan dikenal gigih dalam memperjuangkan aspirasi dusun.
Usulan Prioritas
Dalam
Musyawarah Dusun yang telah dilaksanakan sebelumnya, warga Dusun Karoya
mengajukan beberapa usulan prioritas, namun dua usulan yang paling
mendesak adalah:
a. Perbaikan Jalan Desa
Jalan
poros dusun sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer mengalami kerusakan
parah. Aspal yang sudah berusia lebih dari 10 tahun banyak yang
mengelupas, berlubang, dan bergelombang. Di musim hujan, jalan ini
menjadi becek dan licin, menyulitkan warga yang hendak ke sawah atau ke
pusat desa. Di musim kemarau, debu beterbangan mengganggu pernapasan.
b. Pembangunan Bendungan Kecil
Dusun
Karoya sering mengalami banjir bandang saat hujan deras karena air dari
perbukitan turun tanpa tertahan. Sebaliknya, di musim kemarau, warga
kesulitan mendapatkan air untuk irigasi. Warga mengusulkan pembangunan bendungan kecil
(cek dam atau dam parit) di bagian hulu sungai yang melintasi dusun.
Bendungan ini berfungsi ganda: menahan laju air saat banjir (mengurangi
erosi) dan menyimpan cadangan air untuk musim kemarau.
Hasil Pengukuran dan Peninjauan
Tim
peninjau tiba di Dusun Karoya pada pukul 08.30 WIB. Mereka disambut
oleh Bapak Suhana dan sekitar 15 orang warga yang sudah menunggu di
tikungan jalan yang paling rusak.
Untuk perbaikan jalan: Tim mengukur panjang ruas jalan yang rusak dengan meteran. Hasilnya, panjang total yang memerlukan perbaikan adalah 1,35 kilometer
(sedikit lebih pendek dari perkiraan awal warga yang menyebut 1,5 km).
Lebar jalan bervariasi antara 2,5 hingga 3 meter. Tim juga mencatat
jenis kerusakan: 40% berlubang sedang, 35% aspal mengelupas, dan 25%
retak rambut. Tim merekomendasikan perbaikan dengan metode overlay
(pelapisan ulang) untuk yang masih baik, dan pembongkaran total untuk
yang sudah parah.
Untuk bendungan kecil:
Tim berjalan menyusuri sungai sekitar 500 meter dari pemukiman. Lokasi
yang diusulkan warga berada di sebuah titik di mana sungai menyempit dan
memiliki tebing batu alam. Tim mengukur lebar sungai (4,2 meter),
kedalaman saat musim kemarau (0,3 meter), dan perkiraan tinggi bendungan
yang dibutuhkan (1,5 meter). Tim juga mencatat bahwa di sekitar lokasi
tersedia batu kali yang melimpah, sehingga material bisa diperoleh
secara lokal. Warga setempat bahkan bersedia bahu-membahu membawa batu
jika proyek disetujui.
Catatan Tim: Kedua usulan Dusun Karoya dinilai layak secara teknis.
Perbaikan jalan sangat mendesak karena mengancam keselamatan pengguna
jalan. Bendungan kecil juga sangat bermanfaat dan didukung oleh
antusiasme warga yang tinggi.
2. Dusun Bungur: Fokus pada Balai Pertemuan dan Saluran Irigasi
Kondisi Umum Dusun Bungur
Dusun
Bungur merupakan dusun pusat pemerintahan karena kantor desa berada di
wilayah ini. Dusun ini juga memiliki jumlah penduduk paling banyak.
Kepala Dusun Bungur, Bapak Iyam, adalah tokoh yang disegani karena ketegasannya dalam mengelola kebersihan dan ketertiban.
Usulan Prioritas
a. Pembangunan Balai Pertemuan Desa
Saat
ini, Dusun Bungur tidak memiliki balai pertemuan yang representatif.
Kegiatan warga seperti pengajian, rapat RT, atau pelatihan seringkali
dilaksanakan di serambi masjid yang sempit atau di rumah warga secara
bergilir. Warga mengusulkan pembangunan balai pertemuan sederhana namun
layak, dengan kapasitas sekitar 100 orang.
b. Perbaikan Jalan Utama
Jalan
utama yang menghubungkan Dusun Bungur dengan dusun-dusun lain (Karoya
dan Sukasirna) banyak yang rusak, terutama karena dilalui truk
pengangkut hasil pertanian dan material bangunan.
c. Pembuatan Saluran Irigasi
Dusun
Bungur memiliki lahan pertanian yang subur, namun sistem irigasinya
masih tradisional (menggunakan aliran air yang tidak terkendali). Warga
mengusulkan pembangunan saluran irigasi permanen dari beton sepanjang
kurang lebih 800 meter.
Hasil Pengukuran dan Peninjauan
Tim
tiba di Dusun Bungur pada pukul 11.00 WIB, setelah selesai di Karoya.
Bapak Iyam sudah menyiapkan lokasi-lokasi yang akan diukur.
Untuk balai pertemuan:
Tim meninjau dua lokasi alternatif yang diusulkan warga. Lokasi pertama
adalah tanah kas desa di samping kantor desa (luas 12 x 15 meter),
lokasi kedua adalah tanah wakaf di dekat masjid (luas 10 x 20 meter).
Setelah diskusi, tim dan warga sepakat memilih lokasi pertama (samping
kantor desa) karena lebih mudah akses dan sudah milik desa. Tim mengukur
luas lahan (180 m²) dan merencanakan bangunan berukuran 8 x 12 meter
(96 m²) dengan halaman tersisa untuk taman.
Untuk perbaikan jalan utama:
Tim mengukur ruas jalan yang menghubungkan Dusun Bungur ke Dusun Karoya
sepanjang 2,1 kilometer. Dari pengukuran, ditemukan bahwa 1,2 kilometer
di antaranya rusak sedang hingga berat. Tim merekomendasikan perbaikan
bertahap: tahun 2025 fokus pada 600 meter pertama yang paling parah.
Untuk saluran irigasi:
Tim mengikuti aliran irigasi yang diusulkan dari bendung tersier hingga
ke area persawahan seluas 20 hektar. Panjang total yang diukur adalah
870 meter (sedikit lebih panjang dari usulan). Kontur tanah relatif
datar sehingga pembangunan saluran beton dimungkinkan. Tim mencatat
bahwa diperlukan dua pintu air (gorong-gorong) untuk mengatur aliran ke
sawah-sawah yang berbeda.
3. Dusun Sukasirna: Fokus pada Infrastruktur Pertanian
Kondisi Umum Dusun Sukasirna
Dusun
Sukasirna dikenal sebagai lumbung padi Desa Bungur Raya. Sebagian besar
warganya adalah petani yang sangat bergantung pada hasil panen padi dan
palawija. Kepala Dusun Sukasirna, Bapak Oman, adalah mantan petani sukses yang kini aktif mengorganisir kelompok tani.
Usulan Prioritas
a. Perbaikan Jalan Menuju Area Persawahan
Akses
ke area persawahan di Dusun Sukasirna sangat buruk. Jalan tanah yang
ada seringkali becek dan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua atau roda
empat, terutama saat musim hujan. Padahal, di musim panen, truk
pengangkut gabah harus masuk ke area persawahan.
b. Pembangunan Saluran Irigasi Tambahan
Irigasi
yang ada saat ini belum mencukupi untuk seluruh lahan persawahan,
terutama di bagian hilir. Warga mengusulkan saluran irigasi tambahan
sepanjang 1 kilometer.
c. Pembangunan Bendungan Kecil
Mirip
dengan usulan Dusun Karoya, warga Dusun Sukasirna juga menginginkan
bendungan kecil (cek dam) untuk menampung air hujan dan mengurangi
erosi.
Hasil Pengukuran dan Peninjauan
Tim tiba di Dusun Sukasirna pada pukul 13.30 WIB setelah istirahat makan siang.
Untuk jalan menuju persawahan:
Tim mengukur panjang jalan yang diusulkan oleh kelompok tani. Jalan ini
membentang dari pinggir jalan dusun hingga ke area persawahan terjauh.
Panjang totalnya adalah 1,1 kilometer,
dengan lebar rata-rata 1,8 meter (hanya cukup untuk gerobak motor atau
traktor kecil). Tim merekomendasikan pelebaran menjadi 3 meter untuk
akses truk, namun hal ini akan memakan lahan sawah di pinggir jalan.
Perlu musyawarah dengan pemilik lahan yang terkena dampak.
Untuk saluran irigasi tambahan:
Tim mengukur alur irigasi yang diusulkan, sebagian besar masih berupa
tanah. Panjangnya 980 meter. Tim mencatat bahwa diperlukan pembangunan
dua buah bronjong (trapesium dari batu kali) untuk menguatkan tebing di
beberapa titik yang labil.
Untuk bendungan kecil:
Lokasi yang diusulkan berada di sungai yang melintasi dusun. Tim
mengukur lebar sungai (5,5 meter) dan tinggi rencana bendungan (1,8
meter). Di sekitar lokasi, terdapat banyak pohon bambu yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sementara (anyaman bambu untuk
bekisting).
4. Dusun Karangpawitan: Fokus pada Jalan dan Balai Pertemuan
Kondisi Umum Dusun Karangpawitan
Dusun
Karangpawitan terletak di bagian selatan Desa Bungur Raya, berbatasan
dengan desa tetangga. Wilayah ini memiliki potensi wisata alam yang
belum tergarap (air terjun kecil). Kepala Dusun Karangpawitan adalah Ibu Evi,
salah satu dari sedikit kepala dusun perempuan di Kecamatan
Langkaplancar. Beliau dikenal dengan gaya kepemimpinan yang inklusif dan
perhatian pada pemberdayaan perempuan.
Usulan Prioritas
a. Perbaikan Infrastruktur Jalan
Kondisi
jalan di Dusun Karangpawitan adalah yang terparah di antara keempat
dusun. Banyak ruas jalan yang sudah tidak layak dilalui kendaraan roda
empat. Warga mengusulkan perbaikan total.
b. Pembangunan Balai Pertemuan
Dusun
Karangpawitan juga belum memiliki balai pertemuan. Kegiatan PKK,
pengajian ibu-ibu, dan pelatihan seringkali terhambat karena tidak ada
tempat yang memadai.
Hasil Pengukuran dan Peninjauan
Tim tiba di Dusun Karangpawitan pada pukul 15.30 WIB.
Untuk perbaikan jalan: Ibu Evi memandu tim ke beberapa titik jalan yang paling parah. Tim mengukur total panjang jalan yang memerlukan perbaikan: 2,3 kilometer,
terbagi dalam 5 ruas berbeda. Tingkat kerusakan bervariasi, tetapi
sebagian besar (70%) tergolong berat (lapisan aspal hilang, tanah dasar
tampak). Tim merekomendasikan pembangunan ulang total (rekonstruksi),
bukan sekadar tambal sulam.
Untuk balai pertemuan:
Tim meninjau dua lokasi usulan: tanah kas desa yang saat ini masih
berupa kebun kosong (luas 15 x 20 meter) dan tanah wakaf di dekat
mushola (10 x 15 meter). Setelah berdiskusi dengan warga yang hadir
(sekitar 20 orang), disepakati lokasi tanah kas desa karena lebih luas
dan tidak melibatkan proses wakaf yang memakan waktu. Tim mengukur luas
area dan merencanakan bangunan sederhana berukuran 7 x 10 meter.
Kolaborasi Pemerintah Desa dan Masyarakat
Kegiatan pengukuran dan peninjauan ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya kolaborasi erat antara pemerintah desa dan masyarakat.
Pemerintah Desa Bungur Raya, diwakili oleh perangkat desa dan BPD,
menunjukkan sikap yang sangat terbuka. Mereka tidak hanya datang,
mengukur, lalu pergi. Mereka mendengarkan cerita warga, mencatat setiap
masukan, dan bahkan ikut merasakan kesulitan warga dengan berjalan kaki
menyusuri jalan yang rusak.
Di
sisi lain, masyarakat juga menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang
tinggi. Di setiap dusun, warga berkumpul di lokasi peninjauan, ada yang
membawa air minum untuk tim, ada yang membantu memegang ujung meteran,
ada yang dengan sukarela memotong rumput yang menghalangi pengukuran. Di
Dusun Karoya, seorang petani tua bahkan menangis haru ketika tim
mengatakan bahwa usulannya untuk bendungan kecil sudah diukur dan akan
dimasukkan dalam RKPDes.
Kerjasama
seperti inilah yang seharusnya menjadi model pembangunan desa di
Indonesia. Bukan pembangunan yang dipaksakan dari atas, tetapi
pembangunan yang lahir dari bawah, dari hati masyarakat yang merasakan
sendiri kebutuhan mereka.
Tindak Lanjut Hasil Pengukuran
Setelah seluruh pengukuran selesai, tim akan menyusun laporan lengkap yang berisi:
Rekapitulasi hasil pengukuran untuk setiap usulan (panjang, lebar, volume, dll.).
Dokumentasi foto sebelum pembangunan.
Rekomendasi teknis dari tim (apakah usulan layak, perlu modifikasi, atau ditunda).
Perkiraan biaya kasar (estimasi awal sebelum RAB detail).
Laporan
ini akan menjadi bahan untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa
(RKPDes) 2025 yang lebih realistis. Kegiatan yang telah diukur dan
dinilai layak akan dimasukkan sebagai prioritas dengan alokasi anggaran
yang disesuaikan. Kegiatan yang dinilai belum layak karena kendala
teknis atau anggaran akan dijadwalkan ulang untuk tahun berikutnya.
Penutup
Kegiatan
pengukuran dan peninjauan lokasi pembangunan yang dilaksanakan pada
hari Selasa, 3 September 2024, di seluruh dusun di Desa Bungur Raya
berjalan dengan sukses. Empat dusun—Karoya, Bungur, Sukasirna, dan
Karangpawitan—telah menyampaikan usulan prioritasnya masing-masing, dan
tim telah mengukur, mendokumentasikan, serta menilai kelayakan teknis
setiap usulan. Mulai dari perbaikan jalan, pembangunan balai pertemuan,
saluran irigasi, hingga bendungan kecil, semua dilakukan dengan semangat
kebersamaan dan transparansi.
Proses ini menunjukkan komitmen nyata Pemerintah Desa Bungur Raya untuk mendengarkan aspirasi warga dan merealisasikan pembangunan yang adil dan merata
di seluruh desa. Tidak ada dusun yang diistimewakan atau diabaikan.
Setiap usulan diperlakukan secara objektif berdasarkan data lapangan dan
prioritas bersama.
Kepala Desa Bungur Raya, di akhir kegiatan, menyampaikan pesan:
"Hari
ini kita telah bekerja keras. Keringat kita bercucuran, kaki kita
pegal, tetapi hati kita lega karena kita sudah melakukan yang terbaik.
Hasil pengukuran ini akan menjadi dasar bagi perencanaan kita di tahun
2025. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa semua usulan akan langsung
terealisasi tahun depan karena anggaran terbatas. Tapi saya berjanji,
tidak ada usulan yang akan kami lupakan. Semua akan kami perjuangkan,
secara bertahap, demi kemajuan Desa Bungur Raya."
Semoga
hasil dari pengukuran dan peninjauan ini membawa berkah dan menjadi
langkah awal bagi terwujudnya Desa Bungur Raya yang lebih maju,
infrastrukturnya lebih baik, dan warganya lebih sejahtera.